
Kumpulan puisi cinta sedih patah hati kala melihat kekasih pergi, selalu memberi warna tersendiri dalam hidup. Semua orang pasti pernah terluka ketika harus berpisah dengan yang dicintai. Entah itu kekasih yang sudah lama dicintai, kehidupan masa lalu yang harus ditinggalkan, atau hal-hal lain yang berat untuk dilepas. Tidak akan mudah melewati hari-hari kelabu kala harus kehilangan. Namun bukan berarti kita harus selamanya terpuruk.
Sejenak menghirup udara pagi ditemani puisi cinta patah hati bukan berarti berupaya untuk mengulang hari-hari yang telah berlalu. Atau ingin terjebak dalam kepedihan hidup. Ada kalanya, cara mengobati racun adalah dengan racun. Membaca puisi sedih, mungkin akan membuat kita mampu berdiri lagi, karena masih ada banyak hal yang bisa dicari di masa yang akan datang.
Berikut ini kumpulan puisi patah hati yang barangkali sedikit menghibur hari yang sepi. Dimulai dari puisi 'Kemanapun Lelapmu menuju' yang mengisahkan aku lirik yang masih menyesal dengan kesalahannya yang sudah membuka luka menganga di hati sang kekasih. Ia yang tak mungkin bertemu dengan kekasihnya, berharap dapat menemuinya dalam mimpi dan meminta maaf atas luka itu.
Kemanapun Lelapmu Menuju
Sendiri aku terlelap cahaya telah padam sekian waktu
Engkau tak kunjung mengerti segala yang dipatahkan hari
Bila kupejamkan mata kulihat engkau yang tersenyum pudar
Luka yang pernah kutoreh itu, sudahkah kering menjadi lukaku?
Kemana lelapmu menuju
bisakah kuseberangi waktu
Kota yang tertutup usia kini telah meredupkan warna cerahnya
Hanya aku yang diam termangu membayangkan pilu wajahmu
Sudah sekian lama dan tiada satupun yang berganti rupa
Luka yang pernah kutoreh itu, terulang lagi menjadi lukamu
Kemana lelapmu menuju
bisakah kuseberangi waktu
'Tuk mencipta mimpi indah yang belum tercipta
'Tuk hapuskan mimpi buruk yang tak mau pudar
Meskipun dingin melarut, tiada mimpi yang menyertai lelapku
Seolah ia berkata bahwa hati kita tak jua bertaut
Kemana lelapmu menuju
bisakah kuseberangi waktu
Cacat ini takkan meluapi keindahanmu
Cacat ini takkan hancurkan cinta patahku
Kuciptakan mimpi indah yang belum tercipta
Pasti menghapus mimpi buruk yang segera pudar
lalu kuhelakan napasku,
lalu kuserahkan hatiku,
lalu kucerahkan harimu
yang akan tiba...
----------------------------------------------------
Puisi lirik patah hati berjudul 'Jari Telunjuk Tak Mungkin Menunjuknya' mengisahkan penyesalan yang datang terlambat. Tokoh aku baru menyadari besarnya cinta sang kekasih setelah berpaling sekian lama. Tokoh aku berusaha membujuk kekasihnya kembali, tetapi hati orang yang dicintainya itu sudah membeku sekian lama. Dalam luka perih karena cinta yang terlambat itu, jari telunjuk aku bahkan tak bisa menunjuk kekasih yang ada di hadapannya.
Jari Telunjuk Tak Mungkin Menunjuknya
Lelah hati memandang wajahmu yang hilang di sudut tikungan gelap
Mengapa juga tak kukenali pikiran berdekatan di sebelahku ini
Tapi kau terlalu cepat menyurutkan langkah
Tak mengertikah bahwa hatiku tertampar lagi...
Jika kubisa menangis lagi, inginku kau datang kembali
Kukatakan segenggam rahasia yang mungkin pernah kusesali
Terlambatkah kuberpaling meski hanya sedetik saja
Kuterjatuh dalam cinta dan engkau tiada...
Jauh di dalam jari telunjukku engkau adalah yang terbaik dalam hidup
Mengapa juga tak kaumengerti pikiran bersebelahan di dekatmu ini
Tapi kau tak pernah mau berhenti sejenak saja
Tak mengertikah bahwa hatiku tercabik sekian kali...
Jika kubisa menangis lagi, inginku kau datang kembali
Kukatakan segenggam rahasia yang mungkin melegakanmu
Terlambatkah kuberpaling meski hanya sedetik saja
Sedang engkau telah jauh berjelaga...
---------------------------------------------------
Dalam puisi lirik patah hati 'Sudah Tidak Ada Cinta Lagi di Hujan Pagi Ini', aku lirik dalam keadaan luka yang sudah membuncah. Ia sudah berusaha untuk memberikan ruang kepada kekasihnya, tetapi semakin besar rasa mengalah itu, semakin tak bisa ia menggapai cinta sang kekasihnya. Ketika hujan pagi turun begitu deras, aku lirik berkesimpulan cintanya kali ini sudah benar-benar habis.
Sudah Tidak Ada Cinta Lagi di Hujan Pagi Ini
Hujan pagi sudah tak mau memihakmu lagi.
Engkau menepikanku
Semakin banyak kucoba mengalah,
Semakin jauh jarak yang kauciptakan
menelantarkanku
Kau minta aku bertahan sejenak
sesungguhnya aku telah lelah menantimu
Engkau selalu berkata bahwa kutak peduli tangismu
jika begitu mengapa aku begitu mau berada di sini
Pernahkah engkau mengerti satu hal saja tentangku
Hancurnya hati di pekat hujan ini...
Jika aku berada di sisimu kauputar haluan
Engkau mempermainkanku
Jika aku pergi sejengkal kau memaksaku
kembali seolah aku pernah cukup berarti.
Sekian lama kau hanya mendiamkanku
sebenarnya aku bahkan tak lagi mencintaimu
Engkau selalu mendebat bahwa kuhanya ingin sendiri
jika begitu mengapa aku begitu mau terlukai lagi
Pernahkah engkau mau melihat setitik gelap ini saja
Hancurnya hati di deras hujan ini...
Jika hujan pagi ini menderas lagi mungkinkah baru kaupahami
hatiku berjejak di setiap penjuru bumi yang tercabik lagi
Di wajah pucat terakhirmu kau memohonku datang lagi
Apakah itu adil bagiku yang selalu melihatmu menangis?
Engkau punya hidup sendiri bersama kekasih hangatmu
dan aku entah di manamu...
Jadi, biar aku pergi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar