Selasa, 08 Maret 2016

Kumpulan Puisi Cinta Sedih Menyentuh Hati Dalam Keterasingan Hanya Menunggu Sepi


 Kumpulan Puisi Cinta Sedih Menyentuh Hati Dalam Keterasingan Hanya Menunggu Sepi

Kumpulan puisi cinta sedih menyentuh hati kadang membawa kita dalam keterasingan hanya menunggu sepi. Ketika kekasih sudah pergi berlalu, dunia seakan menggelap, hidup seolah tidak pantas dipertahankan lagi. Hati yang hancur, kadang mengabaikan kenyataan, membendung logika, dan menenggelamkan jiwa dalam keterpurukan, seolah segalannya sudah berakhir dan tidak bisa diperbaiki lagi.

Puisi sedih kerap menggambarkan luka hati, tapi tak selamanya hanya berkisah tentang seseorang yang kehilangan pasangan hidupnya. Tetapi juga, bisa berkisah pada seseorang yang harus pergi meninggalkan tempat yang menyimpan memori-memori indah bersama sahabat atau orang terdekat. Puisi luka hati juga bisa berkisah tentang seseorang yang mungkin harus segera mendewasa, meninggalkan masa-masa muda yang penuh ceria, dan menyambut tantangan hari depan yang tidak pasti.

Dalam puisi patah hati 'Bawakan Aku Angin Yang Bersiul Sekali Lagi' di bawah ini, ada kegundahan sang aku tentang keberadaannya di depan sang kekasih. Apakah ia hanya sebatas pengganggu yang harus dibuang, atau mungkin dirinya sudah tinggal menetap di hati sang kekasih setelah sekian perjalanan cinta mereka yang sekian tahun.



Bawakan Aku Angin Yang Bersiul Sekali Lagi

Saat pertama angin bersiul lemah
Meniupi punggung; memberi kabar
Seakan tak percaya kenyataan ini
Bagaimana mungkin cahaya sepertimu
mau terjerembab masuk ke jantung
yang terbiasa melihat dalam gelap

Bawakan aku jutaan senyummu
Tak mau melihat ada air mata
Seolah sekian lama ini aku
hanya sanggup mengganggumu
Biarkan kulihat sisi dalammu
Adakah namaku telah singgah
menetap sepanjang tahun-tahun
yang mungkin melelahkanmu ...

Telah lama melangkahi jalan ini
dan kau tahu kutak bisa bersiul
Yang seperti ini pun telah nyaman
bagi hati yang berkedap-kedip ini

Bawakan aku jutaan senyummu
Tak mau melihat ada air mata
Seolah sekian lama ini aku
hanya sanggup melukai hatimu
Biarkan kulihat sisi dalammu
Adakah namaku telah menetap
sepanjang tahun-tahun panjang
yang mungkin membahagiakanmu ...


-------------------------------------------------

Puisi cinta patah hati di bawah ini, 'Ada Hati Yang Mengendap di Ujung Lorong', mengisahkan tokoh aku yang kembali ke sebuah lorong. dan mengenang masa lalunya bersama orang yang dicintai di sana. Sembari menyadari ketidakmungkinannya bersua dengan kekasihnya tersebut, ia berharap ada kejaiban sang kekasih hadir kembali untuk sekadar bercakap-cakap dan bernostalgia.






Ada Hati Yang Mengendap di Ujung Lorong

Setiap mengingat beberapa
kejadian singkat di lorong
Ketika kita bersendiri saja
Tiada siapa pun lalu lalang

Setiap memandang beberapa
detik ke kejauhan lorong itu
Ada bisik yang tak kau ketahui
Ingin kususurinya sekali lagi ...

Kapankah kau mengerti jauh perasaan ini
Semudah membaca bebaris sajak-sajakku
Mungkin di depanmu aku tak pernah biasa
Tetapi bahkan kuterbiasa mengintip senyummu

Kapankah kau pahami hal-hal yang kuperbuat
Semudah membaca bebaris surat-suratku
Mungkin di hadapanmu aku selalu gugup
Tetapi bahkan kauterbiasa melihatku begitu

Kapankah kau melihat yang tersembunyi ini
Semudah membaca bebaris sajakku tentangmu
Mungkin di depanmu aku tak pernah biasa
Tetapi bahkan kuterbiasa mengintip ceriamu

Kapankah kau dan aku kembali menyusuri
lorong panjang itu seperti sedia kala
Mungkin sekadar bertegur sapa seperti biasa
Izinkanlah hatiku mengendap di sana menunggu ...

-------------------------------------------------

Ada kalanya patah hati itu berkepanjangan. Dalam puisi 'Menghitung Bintang di Langit Mendung Malam Hari' ini tokoh aku begitu menderita ditinggal oleh sang kekasih. Ia bagai berada dalam keterasingan dan hanya menunggu kebahagian yang tak pernah datang. Menghitung bintang dalam langit mendung malam hari adalah pekerjaan yang sangat sia-sia dan mustahil. Kekasih dalam puisi ini mungkin saja bisa dimaknai cintanya, tapi juga bisa lebih tinggi lagi, Sang Maha Cinta, Tuhan.

Menghitung Bintang di Langit Mendung Malam Hari

Sejak berpisah pada hari itu ada yang berubah
dariku; Mungkin kau tak cukup memperhatikannya
atau bibir ini tak bisa cukup baik menyampaikan
Hujan mungkin berbisik tentang hal berbeda lagi
Sedang hanya kuhitung bintang di langit mendung
dalam sekian malam-malam panjang tak terketahui

Ku menangis adakah kau mengerti jeritan asingnya
Sepertinya hujan yang terlempar ingin menyudutkan
Ku merintih mengingat merahnya hari-hari persuaan
Barangkali kau tertarik mengenaliku yang demikian

Sejak matahari fisik membakari ruh ini dalam terik
Kurasakan hal berbeda; dan hanya ingin terus setia
maunya jadi matahari seperti kau yang tersembunyi

Ku menangis; masih saja kau berpaling mendiamkan
Bahasa apa yang mungkin menjadi cahaya penerang
Ku merintih berkhayal milyaran bintang terhitung
dalam badai mengguncang malam dari mata telanjang

Ku memangis adakah kau mau memahami kepayahan ini
Tak mau berjarak; biar kupangkasnya terus mendekat
Ku merintih mencipta milyaran bintang terbenderang
dalam badai mengguncang malam dari mata telanjang
Bertanya-tanya mungkinkah kau tersenyum melihatnya

Kumpulan Puisi Cinta Sedih Patah Hati Melihat Kekasih Pergi (Bagian 1)

 Kumpulan Puisi Cinta Sedih Patah Hati Melihat Kekasih Pergi (Bagian 1)

Kumpulan puisi cinta sedih patah hati kala melihat kekasih pergi, selalu memberi warna tersendiri dalam hidup. Semua orang pasti pernah terluka ketika harus berpisah dengan yang dicintai. Entah itu kekasih yang sudah lama dicintai, kehidupan masa lalu yang harus ditinggalkan, atau hal-hal lain yang berat untuk dilepas. Tidak akan mudah melewati hari-hari kelabu kala harus kehilangan. Namun bukan berarti kita harus selamanya terpuruk.

Sejenak menghirup udara pagi ditemani puisi cinta patah hati bukan berarti berupaya untuk mengulang hari-hari yang telah berlalu. Atau ingin terjebak dalam kepedihan hidup. Ada kalanya, cara mengobati racun adalah dengan racun. Membaca puisi sedih, mungkin akan membuat kita mampu berdiri lagi, karena masih ada banyak hal yang bisa dicari di masa yang akan datang.

Berikut ini kumpulan puisi patah hati yang barangkali sedikit menghibur hari yang sepi. Dimulai dari puisi 'Kemanapun Lelapmu menuju' yang mengisahkan aku lirik yang masih menyesal dengan kesalahannya yang sudah membuka luka menganga di hati sang kekasih. Ia yang tak mungkin bertemu dengan kekasihnya, berharap dapat menemuinya dalam mimpi dan meminta maaf atas luka itu.

Kemanapun Lelapmu Menuju


Sendiri aku terlelap cahaya telah padam sekian waktu
Engkau tak kunjung mengerti segala yang dipatahkan hari
Bila kupejamkan mata kulihat engkau yang tersenyum pudar
Luka yang pernah kutoreh itu, sudahkah kering menjadi lukaku?

Kemana lelapmu menuju
bisakah kuseberangi waktu

Kota yang tertutup usia kini telah meredupkan warna cerahnya
Hanya aku yang diam termangu membayangkan pilu wajahmu
Sudah sekian lama dan tiada satupun yang berganti rupa
Luka yang pernah kutoreh itu, terulang lagi menjadi lukamu

Kemana lelapmu menuju
bisakah kuseberangi waktu

'Tuk mencipta mimpi indah yang belum tercipta
'Tuk hapuskan mimpi buruk yang tak mau pudar

Meskipun dingin melarut, tiada mimpi yang menyertai lelapku
Seolah ia berkata bahwa hati kita tak jua bertaut

Kemana lelapmu menuju
bisakah kuseberangi waktu

Cacat ini takkan meluapi keindahanmu
Cacat ini takkan hancurkan cinta patahku
Kuciptakan mimpi indah yang belum tercipta
Pasti menghapus mimpi buruk yang segera pudar

lalu kuhelakan napasku,
lalu kuserahkan hatiku,
lalu kucerahkan harimu
yang akan tiba...

----------------------------------------------------

Puisi lirik patah hati berjudul 'Jari Telunjuk Tak Mungkin Menunjuknya' mengisahkan penyesalan yang datang terlambat. Tokoh aku baru menyadari besarnya cinta sang kekasih setelah berpaling sekian lama. Tokoh aku berusaha membujuk kekasihnya kembali, tetapi hati orang yang dicintainya itu sudah membeku sekian lama. Dalam luka perih karena cinta yang terlambat itu, jari telunjuk aku bahkan tak bisa menunjuk kekasih yang ada di hadapannya.

Jari Telunjuk Tak Mungkin Menunjuknya

Lelah hati memandang wajahmu yang hilang di sudut tikungan gelap
Mengapa juga tak kukenali pikiran berdekatan di sebelahku ini

Tapi kau terlalu cepat menyurutkan langkah
Tak mengertikah bahwa hatiku tertampar lagi...

Jika kubisa menangis lagi, inginku kau datang kembali
Kukatakan segenggam rahasia yang mungkin pernah kusesali
Terlambatkah kuberpaling meski hanya sedetik saja
Kuterjatuh dalam cinta dan engkau tiada...

Jauh di dalam jari telunjukku engkau adalah yang terbaik dalam hidup
Mengapa juga tak kaumengerti pikiran bersebelahan di dekatmu ini

Tapi kau tak pernah mau berhenti sejenak saja
Tak mengertikah bahwa hatiku tercabik sekian kali...

Jika kubisa menangis lagi, inginku kau datang kembali
Kukatakan segenggam rahasia yang mungkin melegakanmu
Terlambatkah kuberpaling meski hanya sedetik saja
Sedang engkau telah jauh berjelaga...

---------------------------------------------------

Dalam puisi lirik patah hati 'Sudah Tidak Ada Cinta Lagi di Hujan Pagi Ini', aku lirik dalam keadaan luka yang sudah membuncah. Ia sudah berusaha untuk memberikan ruang kepada kekasihnya, tetapi semakin besar rasa mengalah itu, semakin tak bisa ia menggapai cinta sang kekasihnya. Ketika hujan pagi turun begitu deras, aku lirik berkesimpulan cintanya kali ini sudah benar-benar habis.

Sudah Tidak Ada Cinta Lagi di Hujan Pagi Ini

Hujan pagi sudah tak mau memihakmu lagi.
Engkau menepikanku
Semakin banyak kucoba mengalah,
Semakin jauh jarak yang kauciptakan
menelantarkanku

Kau minta aku bertahan sejenak
sesungguhnya aku telah lelah menantimu

Engkau selalu berkata bahwa kutak peduli tangismu
jika begitu mengapa aku begitu mau berada di sini
Pernahkah engkau mengerti satu hal saja tentangku
Hancurnya hati di pekat hujan ini...

Jika aku berada di sisimu kauputar haluan
Engkau mempermainkanku
Jika aku pergi sejengkal kau memaksaku
kembali seolah aku pernah cukup berarti.

Sekian lama kau hanya mendiamkanku
sebenarnya aku bahkan tak lagi mencintaimu

Engkau selalu mendebat bahwa kuhanya ingin sendiri
jika begitu mengapa aku begitu mau terlukai lagi
Pernahkah engkau mau melihat setitik gelap ini saja
Hancurnya hati di deras hujan ini...

Jika hujan pagi ini menderas lagi mungkinkah baru kaupahami
hatiku berjejak di setiap penjuru bumi yang tercabik lagi

Di wajah pucat terakhirmu kau memohonku datang lagi
Apakah itu adil bagiku yang selalu melihatmu menangis?
Engkau punya hidup sendiri bersama kekasih hangatmu
dan aku entah di manamu...
Jadi, biar aku pergi