
Kumpulan puisi cinta sedih menyentuh hati kadang membawa kita dalam keterasingan hanya menunggu sepi. Ketika kekasih sudah pergi berlalu, dunia seakan menggelap, hidup seolah tidak pantas dipertahankan lagi. Hati yang hancur, kadang mengabaikan kenyataan, membendung logika, dan menenggelamkan jiwa dalam keterpurukan, seolah segalannya sudah berakhir dan tidak bisa diperbaiki lagi.
Puisi sedih kerap menggambarkan luka hati, tapi tak selamanya hanya berkisah tentang seseorang yang kehilangan pasangan hidupnya. Tetapi juga, bisa berkisah pada seseorang yang harus pergi meninggalkan tempat yang menyimpan memori-memori indah bersama sahabat atau orang terdekat. Puisi luka hati juga bisa berkisah tentang seseorang yang mungkin harus segera mendewasa, meninggalkan masa-masa muda yang penuh ceria, dan menyambut tantangan hari depan yang tidak pasti.
Dalam puisi patah hati 'Bawakan Aku Angin Yang Bersiul Sekali Lagi' di bawah ini, ada kegundahan sang aku tentang keberadaannya di depan sang kekasih. Apakah ia hanya sebatas pengganggu yang harus dibuang, atau mungkin dirinya sudah tinggal menetap di hati sang kekasih setelah sekian perjalanan cinta mereka yang sekian tahun.
Bawakan Aku Angin Yang Bersiul Sekali Lagi
Saat pertama angin bersiul lemah
Meniupi punggung; memberi kabar
Seakan tak percaya kenyataan ini
Bagaimana mungkin cahaya sepertimu
mau terjerembab masuk ke jantung
yang terbiasa melihat dalam gelap
Bawakan aku jutaan senyummu
Tak mau melihat ada air mata
Seolah sekian lama ini aku
hanya sanggup mengganggumu
Biarkan kulihat sisi dalammu
Adakah namaku telah singgah
menetap sepanjang tahun-tahun
yang mungkin melelahkanmu ...
Telah lama melangkahi jalan ini
dan kau tahu kutak bisa bersiul
Yang seperti ini pun telah nyaman
bagi hati yang berkedap-kedip ini
Bawakan aku jutaan senyummu
Tak mau melihat ada air mata
Seolah sekian lama ini aku
hanya sanggup melukai hatimu
Biarkan kulihat sisi dalammu
Adakah namaku telah menetap
sepanjang tahun-tahun panjang
yang mungkin membahagiakanmu ...
-------------------------------------------------
Puisi cinta patah hati di bawah ini, 'Ada Hati Yang Mengendap di Ujung Lorong', mengisahkan tokoh aku yang kembali ke sebuah lorong. dan mengenang masa lalunya bersama orang yang dicintai di sana. Sembari menyadari ketidakmungkinannya bersua dengan kekasihnya tersebut, ia berharap ada kejaiban sang kekasih hadir kembali untuk sekadar bercakap-cakap dan bernostalgia.
Ada Hati Yang Mengendap di Ujung Lorong
Setiap mengingat beberapa
kejadian singkat di lorong
Ketika kita bersendiri saja
Tiada siapa pun lalu lalang
Setiap memandang beberapa
detik ke kejauhan lorong itu
Ada bisik yang tak kau ketahui
Ingin kususurinya sekali lagi ...
Kapankah kau mengerti jauh perasaan ini
Semudah membaca bebaris sajak-sajakku
Mungkin di depanmu aku tak pernah biasa
Tetapi bahkan kuterbiasa mengintip senyummu
Kapankah kau pahami hal-hal yang kuperbuat
Semudah membaca bebaris surat-suratku
Mungkin di hadapanmu aku selalu gugup
Tetapi bahkan kauterbiasa melihatku begitu
Kapankah kau melihat yang tersembunyi ini
Semudah membaca bebaris sajakku tentangmu
Mungkin di depanmu aku tak pernah biasa
Tetapi bahkan kuterbiasa mengintip ceriamu
Kapankah kau dan aku kembali menyusuri
lorong panjang itu seperti sedia kala
Mungkin sekadar bertegur sapa seperti biasa
Izinkanlah hatiku mengendap di sana menunggu ...
-------------------------------------------------
Ada kalanya patah hati itu berkepanjangan. Dalam puisi 'Menghitung Bintang di Langit Mendung Malam Hari' ini tokoh aku begitu menderita ditinggal oleh sang kekasih. Ia bagai berada dalam keterasingan dan hanya menunggu kebahagian yang tak pernah datang. Menghitung bintang dalam langit mendung malam hari adalah pekerjaan yang sangat sia-sia dan mustahil. Kekasih dalam puisi ini mungkin saja bisa dimaknai cintanya, tapi juga bisa lebih tinggi lagi, Sang Maha Cinta, Tuhan.
Menghitung Bintang di Langit Mendung Malam Hari
Sejak berpisah pada hari itu ada yang berubah
dariku; Mungkin kau tak cukup memperhatikannya
atau bibir ini tak bisa cukup baik menyampaikan
Hujan mungkin berbisik tentang hal berbeda lagi
Sedang hanya kuhitung bintang di langit mendung
dalam sekian malam-malam panjang tak terketahui
Ku menangis adakah kau mengerti jeritan asingnya
Sepertinya hujan yang terlempar ingin menyudutkan
Ku merintih mengingat merahnya hari-hari persuaan
Barangkali kau tertarik mengenaliku yang demikian
Sejak matahari fisik membakari ruh ini dalam terik
Kurasakan hal berbeda; dan hanya ingin terus setia
maunya jadi matahari seperti kau yang tersembunyi
Ku menangis; masih saja kau berpaling mendiamkan
Bahasa apa yang mungkin menjadi cahaya penerang
Ku merintih berkhayal milyaran bintang terhitung
dalam badai mengguncang malam dari mata telanjang
Ku memangis adakah kau mau memahami kepayahan ini
Tak mau berjarak; biar kupangkasnya terus mendekat
Ku merintih mencipta milyaran bintang terbenderang
dalam badai mengguncang malam dari mata telanjang
Bertanya-tanya mungkinkah kau tersenyum melihatnya
